Oktober 7, 2007 oleh wartabuku
Hari Minggu, 7 Oktober 2007
Dalam perjalanan dari Senen menuju Kampung Melayu, ketika itu waktu sekitar jam 6 kurang seperempat sore yang artinya menjelang buka puasa. Hingga akhirnya sebelum halte UI Salemba waktu buka puasa tiba, petugas penjaga pintu bus segera mengambil 2 gelas air mineral, dan segera si penjaga pintu bus dan temannya membatalkan puasa dengan air mineral tersebut.
Pada kasus pertama tersebut, secara terang-terangan si petugas tersebut telah melanggar peraturan bahwa di dalam bus transjakarta dilarang makan dan minum. Namun demikian untuk kasus tersebut bisa diterima dengan alasan bahwa bagi yang menjalankan puasa pada saat buka puasa diperintahkan untuk menyegerakan membatalkan puasanya.
Lebih parahnya lagi, setelah kedua gelas plastik tersebut kosong dan bus berhenti di halte matraman, si petugas dan temannya dengan tanpa merasa bersalah melemparkan kedua gelas plastik tersebut ke luar bus melalui sela-sela antara lantai bus dan lantai halte. Padahal di tepi pintu bus terdapat tempat sampah. Suatu tindakan tolol yang sangat keterlaluan.
Dari kejadian tersebut, bisa diketahui bahwa telah terjadi kesenjangan komunikasi antara nilai yang berusaha diterapkan di dalam sistem transportasi baru ini dengan nilai yang dibawa oleh para petugas dari lingkungan asalnya. Seperti diketahui kebiasaan membuang sampah pada tempatnya bagi sebagian besar masyarakat Indonesia masih sangat buruk.
Dengan berprasangka baik, kesalahan tersebut mungkin tidak bisa ditimpakan sepenuhnya kepada petugas, namun pengelola transjakarta harus segera melakukan pendidikan perilaku dan etika khususnya bagi para petugas penjaga pintu bus. Sebaik apapun bus yang tersedia, namun dengan adanya petugas yang melakukan perilaku buruk akan menghapus kesan positif terhadap transjakarta.
Tag: busway, catatan pribadi, jakarta, kampung melayu, matraman, perilaku buruk, senen, transjakarta
Ditulis dalam busway, jakarta | Leave a Comment »
Juli 17, 2007 oleh wartabuku
Apa jawaban Anda?
1. Jumlah mobil terlalu banyak
2. Jalanan yang kurang banyak
3. Situasional dan tergantung kasus
Apabila Anda menjawab no. 1 berarti pikiran Anda senada dan seirama dengan para pejabat, khususnya di Pemkot DKI. Sebagai anti-tesis atas pemikiran tersebut, perlu diperdalam dengan mengetahui rasio jumlah mobil pribadi per kapita penduduk. Hal ini untuk menjawab apakah benar jumlah mobil di Jakarta sudah terlalu banyak? Rasio jumlah mobil per kapita di Jakarta harus dibandingkan dengan rasio yang sama di Tokyo, New York, London, Paris dan kota-kota dunia lainnya yang sepadan dari luasan wilayah dan jumlah penduduknya.
Pemikiran no. 1 yang menyatakan bahwa jumlah mobil yang terlalu banyak sebagai penyebab utama kemacetan di Jakarta boleh dinilai sebagai kesimpulan instan bagi pengelola kota dan konsekuensi paling sederhana dan murah untuk menanganinya. Sebagai analoginya, apabila saluran kamar mandi rumah mampat sehingga air tergenang di lantai kamar mandi, dengan cara berpikir no. 1 seorang kepala rumah tangga akan melarang anggota keluarganya untuk menggunakan kamar mandi. Hasilnya secara instan tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun masalah kamar mandi yang tergenang terselesaikan, tetapi sebagai konsekuensinya anggota keluarga tidak bisa melaksanakan rutinitas kehidupan secara normal.
Secara nyata kebijaksanaan pemerintah yang mengemuka tentang transportasi di Jakarta sangat dilandasi dengan pemikiran tersebut. Pembatasan jumlah penumpang yang kemudian terkenal dengan sebutan 3 in 1 telah diterapkan mulai 20 April 1992 dan bahkan diperluas oleh Gubernur Sutiyoso sekitar tahun 2003.
Selain itu kebijaksanaan pemerintah yang mengemuka hingga saat ini yang juga dilandasi dengan pemikiran tersebut dan masih menjadi wacana para
(bersambung)
Sumber:
Kemacetan Lalu Lintas, Keruwetan Republik
Jakarta, Kota dengan Sejumlah Kontradiksi
Busway Culture: Budaya Baru Transportasi Jakarta
Buah Simalakama Itu Bernama “Three in One”
Kawasan ”Three in One”, Perlukah Ditinjau Kembali?
Tag: busway, jakarta, macet, transjakarta, transportasi
Ditulis dalam busway, jakarta, transportasi Jakarta | 2 Komentar »